![]() |
Jakarta - Anggota Komisi VII DPR RI, Bambang Haryo Soekartono, meminta pengusutan tuntas terhadap pihak perantara yang diduga menyebabkan anomali harga daging ayam ras. Selisih harga antara tingkat peternak dan konsumen dinilai tidak wajar dan merugikan kedua belah pihak.
"Apakah pabriknya yang tidak benar atau distributornya yang tidak benar? Ini yang harus dicari kebenarannya. Saya akan terus mengecek dan melihat langsung di lapangan," ujar Bambang di Jakarta, Sabtu (17/10/2026).
📊 Anomali Harga yang Mencolok
- 🏪 Harga konsumen: Rp40.000/kg (sesuai plafon HAP tingkat konsumen)
- 🐔 Harga peternak: Hanya Rp19.000/kg — jauh di bawah HAP tingkat produsen yang ditetapkan Rp25.000/kg
Bambang menegaskan, selisih ini tidak boleh dibiarkan. "Ini tugas Bapanas dan Satgas Pangan untuk menyelidikinya," tegasnya.
🤝 Bapanas: Akan Tindak Tegas Bersama Polri
Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, juga menyoroti persoalan ini. Ia menyebut inflasi ayam, telur, dan beras paling menonjol, namun ironisnya harga di tingkat produsen justru rendah hingga membuat peternak demo, sementara konsumen juga mengeluh mahal.
"Ada pihak yang memainkan harga di tengah. Kami sudah menyurat ke Kapolri. Kalau tidak kolaborasi, ini tidak akan selesai selama mafianya masih bercokol di tengah-tengah kita," ujar Amran tegas.
🌾 Intervensi Pemerintah untuk Peternak
Selain penegakan hukum, pemerintah juga melakukan intervensi di hulu melalui program SPHP Jagung Pakan:
- ✅ Kuota tahap I: 213,2 ribu ton
- ✅ Realisasi per 14 Oktober: 81,81% (197,32 ribu ton)
- ✅ Diakses oleh 7.553 peternak melalui 151 koperasi di 29 provinsi
- ✅ Penambahan alokasi: 150 ribu ton jagung pakan tambahan untuk Perum Bulog
